Kegiatan Ilmiah Keperawatan RSPON Mahar Mardjono – Januari 2026: Memperkuat Kompetensi Neurosains

Jakarta – Mengawali tahun 2026, Tim Kerja Pelayanan Keperawatan RS Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan melalui serangkaian kegiatan ilmiah. Fokus utama bulan ini adalah penguatan kompetensi dasar pemeriksaan neurologis dan pendalaman asuhan keperawatan pada kasus kegawatdaruratan saraf.

Berikut adalah highlight kegiatan ilmiah keperawatan sepanjang Januari 2026:

Teaching Class: Mempertajam Pemeriksaan Neurologis Dasar

Pada tanggal 23 Januari 2026, telah dilaksanakan kegiatan Teaching Class bagi perawat baru bertempat di Ruang Skill Lab Lantai 13 Gedung B. Kegiatan ini difokuskan pada topik "Pemeriksaan GCS, Pupil, dan Kekuatan Otot".

Tujuan utama dari sesi ini adalah untuk memastikan seluruh perawat mampu melakukan deteksi dini defisit neurologis dan observasi status pasien secara akurat. Materi yang dibahas meliputi:

  • Glasgow Coma Scale (GCS): Teknik pemberian stimulus suara dan nyeri yang tepat untuk menilai respon mata, verbal, dan motorik.

  • Pemeriksaan Pupil: Menilai ukuran, bentuk, dan refleks cahaya menggunakan penlight.

  • Kekuatan Otot: Prosedur pemberian tahanan untuk menentukan skor kekuatan otot pasien.

Melalui pelatihan ini, diharapkan perawat dapat segera melaporkan perubahan kondisi kritis, seperti penurunan GCS ≥ 2 poin atau perubahan mendadak pada pupil dan kekuatan otot, kepada DPJP.

Studi Kasus IGD: Penanganan Komprehensif Subarachnoid Hemorrhage (SAH)

Pada tanggal 30 Januari 2026, Instalasi Gawat Darurat (IGD) menyelenggarakan pemaparan studi kasus secara daring. Topik yang diangkat adalah "Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Subarachnoid Hemorrhage (SAH)".

Kegiatan ini dipimpin oleh Ns Cahyo Ismawati Sulistyorini, Ners, M.Kep, Sp. Kep.M.B., dan membahas kasus Tn. T yang datang dengan nyeri kepala progresif dan penurunan kesadaran cepat di IGD. Poin-poin penting dalam diskusi ini meliputi:

  • Kegawatdaruratan SAH: Memahami bahwa SAH memiliki tingkat kecacatan dan kematian yang sangat tinggi, sehingga memerlukan manajemen tekanan intrakranial yang ketat.

  • Diagnosis Keperawatan Utama: Fokus pada penurunan kapasitas adaptif intrakranial, gangguan penyapihan ventilator, dan risiko cedera.

  • Peran Vital Perawat: Pentingnya kesigapan perawat dalam menentukan fase akut dan memberikan tatalaksana segera guna mencegah komplikasi serta menurunkan angka kematian.

Komitmen Berkelanjutan

Manajer Tim Kerja Pelayanan Keperawatan, Elis Nurhayati Agustina, M.Kep., Sp.KMB, menyatakan bahwa kegiatan rutin seperti Teaching Class dan studi kasus ini merupakan wujud nyata profesionalisme perawat RSPON dalam memberikan pelayanan neurosains terbaik bagi masyarakat.

Diharapkan dengan adanya kegiatan ilmiah yang berkelanjutan ini, seluruh staf keperawatan tetap terjaga kompetensinya dalam menghadapi kasus-kasus neurologis yang kompleks.

 

Penulis: Tia Marina

 

Back